Tuesday, March 29, 2011

AKU DAN TITIK

Sebuah Cerpen Oleh: Elis Tating Bardiah

Aku melenggang bersama titik, kemana-mana aku melantunkan titik, membaca menulis dengan titik. Dari titik kutemukan arti hidup yang sebenarnya.

****

Aku seorang ustadz di sebuah pondok pesantren modern di kota Bandung, hampir tak seorangpun yang tak kenal dengan Alif Salimuddin seorang qari sekaligus pengajar bahasa Arab di salah satu universitas Islam terkemuka di Bandung. Tak sedikit tawaran untuk mengisi acara-acara yang melibatkan kehadiranku sebagai pembaca ayat Al-Qur’an. Decak kagum dari setiap jamaah yang pernah mendengar suaraku dalam melantunkan ayat-ayat-Nya selalu saja membuat hidungku melayang.

“Ustadz! jangan lupa malam, hadir di acara Isra Mi’raj, ya?” Salah satu santriku mengingatkan. Pada malamnya aku bergegas untuk menghadiri undangan itu. Aku ditunjuk sebagai qari. Seperti biasa ayat-ayat-Nya kulantunkan dengan suara yang menyayat.

Acara demi acara berjalan sesuai rencana. Sehabis beramah tamah dengan panitia peringatan, aku segera berkemas dan berpamitan. Kutuntun motor keluar dari area parkir, sengaja tidak kunaiki karena takut membuat gaduh orang sekitar dengan suara motorku. Oh, ya! Sengaja aku tak mengendarai mobil, cukup dengan motor kesayanganku yang biasa kupakai bila jarak rumah dan lokasi acara tidak terlalu jauh.

Angin malam menyeka keringat di dahi yang menyembul deras dari balik rambut dan jambang hampir sebesar butiran nasi bergulir menguap tersapu usapannya. Alhamdulillah, sejuk angin malam tak menyisakan keringat lagi. Setelah kurasa jauh dari lokasi, barulah aku starter dan melengganglah kuda besiku tubuh jalan.

Kunikmati malam di antara keremangan cahaya lampu yang bersumber dari pertokoan atau pun tiang-tiang pada bahu jalan, juga sebagian rumah yang bertengger di samping kiri kanan trotoar. Kilatan cahaya lampu mobil yang menyoroti jalan raya, menyilaukan pandanganku. Betapa indah malam itu kurasakan begitu dalam, padahal setiap malam aku sering melewati jalan itu, kesan pada malam itu begitu terasa lain di hati. Ketika melihat pendaran cahaya yang terhalang rerimbun daun yang tumbuh berseling di marka jalan, rasa was-was tiba-tiba merayap membelai kecemasanku. Entah kenapa, tiba-tibahati tak tentu rasa.

Di tengah kecemasan yang menyergap, tiba-tiba kulihat sinar yang begitu terang, entah dari mana datangnya. Aku melihat sebuah truk dari arah yang berlawanan tidak pada jalur yang seharusnya, setelah itu kudengar suara begitu keras. “ckiiiiit…. Brak!” yang menjadikan aku menjadi seorang aktor stunman dadakan. Truk itu telah menabrak motor yang kukendarai. Saking kerasnya benturan aku ikut terbang bersama ingatanku yang ikut lenyap dan akhirnya gelap.

****

Ketika terbangun, hidungku mencium bau alkohol dan obatan-obatan seperti layaknya dalam ruangan perawatan pada sebuah rumah sakit. Telingaku menangkap suara tangisan, di dahi dan kepala terasa ada usapan lembut yang begitu tulus. Tapi mana rupa orang yang menangis dan mana orang yang mengusap kepalaku? Tangan kugerakkan, untuk mencari sumber suara tangisan dan usapan lembut itu.

“Alhamdulillah..” Ucapan itu bersumber dari suara yang kukenal. Setelah berusaha kubuka mata selebar-lebarnya tetap saja luput dari pandangan. Jangankan benda, cahaya saja tak ada.

“Ibu! Ibukah itu?” yang mengucap hamdalah itu suara Ibu. Ya! Itu suara ibuku, sangat jelas di telinga ini.

“Iya, nak! Ini Ibu. Kau terbaring sudah cukup lama, Ibu sangat mengkhawatirkanmu. Kuucap syukur, kini kau telah siuman.”

Jadi, tangan yang mengelus kepalaku itu ternyata Ibuku. Aku senang dapat mendengar suara yang kukenali. Ibu memelukku erat sekali, akupun menyusup pada pelukannya layaknya anak balita yang sedang ingin dimanja ibunya. Perlahan mataku terasa panas dan ada yang hangat memenuhi bibir mata yang siap tumpah bila kukedipkan. Suaraku seakan hilang, aku tak mampu mengungkapkan sepatah katapun, namun di hati terasa ada yang perih.

“Mana Leha?”

“Kang Udin? Ini Leha, kang…!”

“Leha?”

“Iya. Akang pingsan cukup lama, sudah seminggu akang terbaring.”

“Benarkah?”

Apakah ini di rumah sakit?”

“Benar, kang.. ini di rumah sakit.”

Aku berusaha mendekati suara istriku, sambil meraba-raba aku peluk dan kuciumi dahinya, lalu kuberanikan diri untuk bertanya sekadar memenuhi kepenasaran akan gelapnya cahaya dalam pandanganku.

“Leha…. jawab dengan jujur, apakah akang buta?”

“Leha! Leha… jawab!”Tak ada jawaban, hanya isak yang kuperoleh.

“Leha, mengapa diam?” Jawab pertanyaan akang, Leha!”

Tetap saja aku tak memperoleh jawaban. Hanya tangis yang memecah dinding kegelisahan dan keperihanku. Cahaya yang tak mampu menembus pandangku, pingsan yang cukup lama, ruangan yang berbau alkohol dan obat-obatan ini rumah sakit. Sempurnalah gelisahku.

“Aku? Buta? Oh…..! Tuhan…. “

“Kenapa aku harus buta? Bukankah aku selalu mengumandangkan ayat-Mu, apa salahku? sehingga kau ambil penglihatanku. Kenapa? Kenapa, Tuhan? Tolong jawab, pertanyaanku!

Tangisku memenuhi ruangan, memecah hening yang kemudian berganti menjadi sebuah karnaval kegelisahanku. Semakin deras air mata yang tumpah, semakin goncang kesesakan dalam dada ditambah rasa kecewa yang mulai membekap, begitu terasa meradang. Pertanyaan- pertanyaan yang kulempar hanya menambah perih saja.

****

Pikirku mengambang. Kini Alif Salimuddin, qari terkenal itu berjalan dengan tongkat sebagai penuntunnya, mana kegagahan dan wibawanya sekarang? Bahkan suara emasnya tenggelam pada cahaya redupnya. Pandangan yang sebegitu diandalkannya dalam membaca ayat-ayat-Nya kini telah hilang berganti kegelapan.

Batinku terpukul hebat, aku sempat mengalami depresi dengan kejadian ini. Semua orang yang menengokku tak jarang aku lempari dengan barang-barang yang ada di sekitarku. Seolah aku lupa, bahwa sebelumnya aku adalah seorang qari dan dosen pada salah satu perguruan tinggi. Aku mungkin sudah hampir setengah gila dengan kenyataan yang begitu berat mengikat semua penderitaanku.

Dalam ketertekananku banyak orang yang menaruh simpati padaku, teman-temanku, mahasiswa-mahasiswaku, karib kerabat. Apalagi tetangga dekat. Mereka sangat perhatian. Hingga pada suatu hari ada yang mengabariku untuk tinggal di sebuah panti sosial di mana semua fasilitas tersedia bagi yang memiliki keterbatasan sepertiku.

Dari informasi itulah aku mencoba hidup terisolasi dari keluarga, karena aku kini telah resmi sebagai warga dari sebuah komplek yang penghuninya para tuna netra. Di sanalah aku ditempa, aku harus belajar menajamkan pendengaran dan rasa, sekadar mengenali siapa yang berbicara atau yang menyapa.

Di komplek ini aku kembali menjadi balita, di saat berjalan aku harus tertatih meraba dengan rasa, di mana letak lubang, di mana letak belokan, di mana letak jalan turun atau pun harus naik. Tak jarang aku harus terperosok ke parit yang berada di samping masjid. Bahkan ketika ingin menyeberang untuk sesekali membeli sesuatu aku hampir tertabrak kendaraan atau menyenggol orang yang berlalu lalang. Tak sedikit orang menyumpahiku karena terkena sabitan tongkatku yang tengah mencari jalan. Secara fisik mataku seperti normal. Cuma penglihatannya saja yang tidak berfungsi.

*****

Selain belajar berjalan dan mendengar, aku juga harus belajar menulis dan membaca. Layaknya anak yang baru masuk sekolah. Menulis bukanlah pada buku tulis namun menggunakan kertas tebal. Kertas bekas pun bisa dipakai, yang penting bisa meninggalkan bekas titik yang aku tusuk dengan alat yang berupa pena. Pena itu bukan pena biasa yang bertinta, melainkan pena bermata besi seperti sebuah jara yang sering digunakan tukang sol sepatu dan tak berfungsi jika tak ada riglet, yaitu sebuah cetakan huruf braille yang bentuknya seperti penggaris berlipat yang apabila ingin menulis tinggal memilih lubang yang akan kita tusuk sesuai dengan huruf yang ingin kita tuliskan.

Di saat aku harus belajar membaca, aku harus hafal dengan serangkaian titik yang membentuk huruf, karena ternyata orang buta sepertiku punya tulisan khusus yang disebut “Braille”. Di mana setiap huruf dinyatakan dengan titik. Ya, dari titik itulah aku mulai belajar tentang kebermaknaan hidup.

Semua huruf alpabet dan hijaiyah yang telah aku kuasai lenyap dalam sesaat. Aku bukan apa-apa. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah manusia buta. Tuli. Mungkin sekarang aku juga bisu. Karena aku tak dapat lagi mengalunkan ayat-ayat-Nya. Siang dan malam kini tak ada bedanya. Antara tidur dan terjaga juga sama saja. Hanya gelap yang kudapatkan.

Kesedihanku dalam memandang orang-orang tercinta, sudah jelas! Aku sudah tak dapat lagi melihat bagaimana gurat wajah ibu yang kini mulai berangsur melahap usianya yang semakin senja dan aku tentu tak akan dapat melihat bayi mungilku yang baru lahir, cermin-cermin yang ada pun kini sudah tak ada guna ketika ku berdandan penampilanku rapi tidaknya hanya dapat kurasa dan kubenarkan atas perintah hati.

Kini banyak waktu yang kugunakan untuk merenung mencari hikmah di sebalik kejadian yang Tuhan gariskan. Ini teguran Tuhan, untukku. Sebagai tanda kasih sayang-Nya agar kelak di akhirat mataku benar-benar dapat memandang-Nya. Setelah sekian lama aku menjadi qari yang biasa mengumandangkan ayat-ayat-Nya dengan pandangan, kini saatnya aku harus belajar membacanya dengan meraba. Meski memang bukan hal yang mudah. Karena aku harus belajar dari nol lagi. Bagaimana bentuk hijaiyah dan tulisan latin dalam braille.

****

Setelah salat Maghrib, tiba-tiba hatiku rindu ingin mengaji, ingin membuka helai demi helai Al-Quran yang sudah terlalu lama tak kusentuh apalagi membacanya, dengan menyeret langkah menyusuri tembok masjid akhirnya aku dapati sebuah rak. Lama sekali aku harus mendapati Al-Qur’an. Baru kusadari, kalau aku buta. Sampai kapanpun, aku takkan dapat menemukannya, selama aku belum bisa membaca huruf braille. Selain hurufnya dicetak dengan huruf braille, bentuk dan ukurannya juga berbeda dengan Al-Qur’an yang kugauli sebelumnya.

Terakhir aku memperoleh informasi dari salah seorang teman baruku, harga Al-Quran Braille berkisar Rp 1.650.000,00 dan beratnya hampir 25 kg per setnya. Awalnya aku terkejut! Bagaimana aku membawa Al-Qur’an seberat itu? Setelah kuselidiki, 25 kg itu bukan satu buku namun satu set yang terdiri dari 30 juz/buku.

Belajar huruf per huruf saja sudah kewalahan, apalagi harus memikulnya. Itu yang terbayang sebelumnya. Ya Tuhan, apalagi? Adakah orang yang mau mengajarkan serangkaian titik pembentuk huruf hijaiyah itu padaku. Ketika aku harus berkutat dengan titik-titik, ada perasaan betapa kecilnya aku dihadapan para tunanetra cilik penghuni masjid, bahkan ada yang sampai hafidz tanpa penglihatan, mereka dapat menghafalnya. Sementara, aku? tiba-tiba ada yang hangat menggenang di kedua kelopak mataku yang siap jatuh mengalir menimpa tangga rasa penyesalan akan ketidakberdayaanku.

Ah! Jadi teringat istriku, yang sekian lama aku tinggalkan. Apa bekal dari tabungan masih ada. Kalau seandainya masih ada, aku bisa meminjamnya dulu untuk membeli Al-Qur’an. Aku masih hafal dengan nomor telpon genggam istriku, dan kucoba mencari wartel terdekat yang terletak di seberang komplek.

“Ha! Uang tabunganmu apa masih ada? Boleh Akang pinjam, ya? Akang ingin belajar lagi membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an Braille berbeda dengan Al-Qur’an yang biasa kita gunakan dan untuk memilikinya tidak bisa dengan uang sepuluh atau dua puluh ribu”

Yang diajak bicara diam, sepertinya dia bingung mau menjawab apa.

“Ha! Kenapa diam?”

“Akang, maafkan Leha, sebenarnya uang tabungan kita telah habis digunakan untuk bersalin. Saat ini Leha hanya mengandalkan berjualan lotek(3) untuk membeli susu si ade. Leha tidak mengabari akang, karena takut membebani pikiran Akang.”

Jawaban yang sungguh membuatku semakin perih dan diam seketika. Ternyata selama dua tahun ini, istriku berjualan lotek untuk menghidupi dirinya dan anakku, dan aku tidak mengetahuinya. Dia tidak mengungkapkannya karena takut membebani pikiranku. Lalu fungsiku, apa sebagai suami?

Setelah mendengar kabar itu, aku berpikir, bagaimana caranya untuk mencari uang. Selain untuk membeli Al-Qur’an juga untuk menafkahi keluarga yang lama aku tinggalkan. Mulailah aku belajar bermain gitar dan menyanyikan beberapa lagu dari teman yang menguasai hal itu.

****

Aku kini mengamen di stasiun kereta dan terminal. Dari gerbong ke gerbong kulantunkan lagu. Dari bus ke bus kudendangkan irama. Aku pantang menyerah walau keadaanku buta, aku tak mau menengadah cuma-cuma. Aku pun belajar shiatsu, ilmu memijat untuk pengobatan. Setelah aku menguasainya aku menerima panggilan, dari rumah ke rumah dengan menjual jasa pijat, tentunya tidak sembarang pijat. Hanya khusus laki-laki saja.

Aku merasa lega karena uang yang kukumpul dari hasil mengamen dan memijat, kira-kira sudah mencapai satu juta lebih. Lalu, aku cek. Aku selalu menyimpannya di bawah lipatan baju di lemari asrama. Tanganku mulai meraba-raba di setiap lipatan baju, tapi yang kucari tak kunjung ketemu. Aku sangat yakin dilipatan baju paling bawah.

“Ya.. Tuhan! Di mana kuletakkan uang itu? Perasaan kuletakkan di sini! Hampir semua baju kugerayangi namun tak ketemu jua. Setelah lelah-lelah kuperas keringat setiap waktu, hasilnya, raib! Ini semua gara-gara aku buta! Coba kalau aku awas, mungkin kejadiannya tak seperti ini. Tuhan! Engkau begitu suka mempermainkan aku, rupanya. Ok! Aku kini tahu apa yang Kau mau. Aku tak kan membiarkan diriku jatuh untuk kedua kalinya. Lihatlah! Aku akan tetap berjuang walau dalam kegelapan.” Tik! Tiba-tiba air mataku menitik, setelah membuat bendungan di kedua sudutnya.

Lalu, pikirku berkelana pada teman-teman yang lain, yang kehidupan ekonominya di bawah rata-rata. Apakah mereka juga sanggup membeli Al-Qur’an braille? Sementara aku yang mencoba mengumpulkan uang untuk membelinya sajabelum juga Tuhan takdirkan untuk segera memilikinya.

****

"Assalamu’alaikum. Kami dari Yayasan Pelita Hati sangat menanti distribusi Al-Qur’an Braille-nya. Kapan segera dikirim ke Kediri?”

“Assalamu’alaikum.Ustadz, akad nikah akan dilakasanakan hari ahad jam 08.30. Kami sangat berharap ustadz menjadi qari di acara pernikahan anak kami. Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullah..".

Dua Pesan singkat masuk di ponselku.

****

“…. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang ada di dalam dada.” (Q.S 22: 46).*



Bandung, Maret 2011


KOMENTARKU atas CERPEN di atas:

Cara dan gaya Mbak Elis bercerita sangat aku suka. Setiap paragrafnya tidak hanya menari, namun juga bernyanyi.
Alir alurnya mengalun, tidak hanya merdu, akan tetapi lebih dari itu, meretas getaran yang menggoyang goyang rasa yang 'paling' dalam jiwa.
Coba, simak satu kutipan paragraf berikut ini:

"Tangisku memenuhi ruangan, memecah hening yang kemudian berganti menjadi sebuah karnaval kegelisahanku. Semakin deras air mata yang tumpah, semakin goncang kesesakan dalam dada ditambah rasa kecewa yang mulai membekap, begitu terasa meradang. Pertanyaan- pertanyaan yang kulempar hanya menambah perih saja."
--
Begitu sempurna Ia eksplorasi thema. Sepertinya, barisan paragrafnya adalah puisi, berharmonisasi dari intro hingga endingnya.

Aku Kagum!
regards, Ardi Nugroho

No comments:

Post a Comment